Problema Induksi dalam Ilmu Pengetahuan dan Kegagalan Zainuddin Memahami Hukum Tak Tertulis Budaya Minang
Abstract
Artikel ini menganalisis keterkaitan antara Problema Induksi—sebagaimana dikemukakan oleh David Hume dan dipopulerkan oleh Karl Popper—dalam kerangka filsafat ilmu, dengan kegagalan karakter Zainuddin dalam memahami dan menavigasi tatanan sosial serta hukum tak tertulis (adat) Budaya Minang, seperti yang digambarkan dalam novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck oleh Hamka. Problema Induksi menunjukkan bahwa pengalaman masa lalu tidak menjamin kebenaran universal di masa depan, sebuah keterbatasan yang tercermin dalam cara Zainuddin (seorang perantau dengan latar belakang yang tidak sepenuhnya Minang) berusaha menarik kesimpulan tentang masyarakat Minang berdasarkan pengamatan terbatasnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-filosofis dan studi literatur. Hasilnya menunjukkan bahwa kegagalan Zainuddin berakar pada penalaran yang terlalu menyederhanakan dan menggeneralisasi, mirip dengan kelemahan penalaran induktif, yang pada akhirnya membuatnya gagal memenuhi ekspektasi sosial dan hukum adat yang kompleks, khususnya terkait sistem kekerabatan Matrilineal.
Downloads
References
Ardianta, S. (2024). Hegemoni adat Minangkabau dalam novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck karya Hamka. ESTETIK: Jurnal Bahasa Indonesia, 7(2), 45–58. https://doi.org/10.29240/estetik.v7i2.9790
Carmila, T. (2021). Nilai-nilai Filosofis dari Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck Karya Hamka [Skripsi]. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry.
Costa, T. (2025). From Hume to Jaynes: Induction as the Logic of Plausible Reasoning. https://doi.org/10.48550/arxiv.2511.02881
Hamka. (2017). Tenggelamnya Kapal van der Wijck (Cet. ke-22). Gema Insani. (Edisi asli 1938).
Hamka. (2018). Di bawah lindungan Ka’bah (Cet. ke-15). Gema Insani. (Edisi asli diterbitkan tahun 1938).
Hamka. (2019). Merantau ke Deli (Cet. ke-12). Gema Insani. (Edisi asli diterbitkan tahun 1940).
Hume, D. (2007). A Treatise of Human Nature (D. F. Norton & M. J. Norton, Eds.). Oxford University Press. (Edisi asli 1739).
Judiasih, S. D., Kusmayanti, H., Rajamanicham, R., & Artiana, M. M. (2025). The Developing of Minangkabau Customary Inheritance. Media Iuris, 8(3), 529–552. https://doi.org/10.20473/mi.v8i3.76766
Moeed, A., Dobson, S., & Saha, S. (2023). Research Design and Methodology (pp. 23–33). Springer Nature (Netherlands). https://doi.org/10.1007/978-981-99-7286-9_2
Navis, A. A. (1986). Alam Takambang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. PT Pustaka Grafitipers.
Popper, K. R. (1959). The logic of scientific discovery. Hutchinson & Co.
Qur’ani, H. B. (2019). Martabat Perempuan Minangkabau dalam Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck Karya Hamka. Lentera: Jurnal Bahasa dan Sastra, 15(2), 125–138.
Suhadak, T. (2023). Buya Hamka pada Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck: Kajian Historis Antropologi. Mantra: Jurnal Sejarah dan Budaya, 1(2), 36–48.
Syafitri, W. (2018). Social Conflict in Hamka’s Novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck. KnE Social Sciences, 3(4), 942–950. https://doi.org/10.18502/kss.v3i4.2001
Syaifuddin, A. (2021). Kritik sosial Hamka terhadap adat Minangkabau dalam novel Tenggelamnya Kapal van der Wijck dan Di Bawah Lindungan Ka’bah. Jurnal Sastra Indonesia, 10(1), 78–92.
Wahid, A. (2023). Hukum adat minangkabau sebagai basis dan perspektif dalam pembentukan sistem hukum nasional. Jurnal Integrasi Ilmu Syariah. https://doi.org/10.31958/jisrah.v4i2.10154







